Alert! FAO Peringatkan Ancaman El Nino, Malapetaka Intai RI

Suasana luas area lahan pertanian di Kecamatan Cibarusah yang mengalami kekeriangan akibat musim kemarau, Desa Ridogalih, Cibarusa, Jawa Barat. Dikutip berita Cikarang.com Camat Cibarusah, Enop Can mengatakan saat ini terdapat kurang lebih 50 hektar lahan pertanian yang ada di wilayahnya mengalami kekeringan. Lahan pertanian itu tersebar di 3 desa, yakni Ridogalih, Ridomanah dan Sirnajati. berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi per tanggal 15 Juni 2019, dari total 22.174 hektare lahan pertanian yang tersebar di 23 kecamatan di Kabupaten Bekasi, sebanyak 791 hektar telah dilanda kekeringan. Kekeringan lahan pertanian di Kabupaten Bekasi terjadi di 3 kecamatan yakni Bojongmangu 716 hektar, Sukatani 47 hektar dan Cibarusah 28 hektar. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Organisasi pangan dan pertanian dunia, Food and Agriculture Organization (FAO) memperingatkan ancaman risiko kekeringan ekstrem akibat El Nino di wilayah-wilayah Afrika bagian Selatan, Amerika Tengah, serta Asia Timur Jauh termasuk Indonesia.

FAO merilis laporan yang memuat rekomendasi bagi negara-negara anggota dan mitra agar mengantisipasi ancaman yang muncul.

“Laporan ini bertujuan menyoroti negara-negara di mana Kondisi cuaca kering akibat El Nino dapat terjadi dan memiliki dampak buruk pada produksi sereal di 2023/2024, berpotensi memperparah kerawanan pangan lokal,” tulis FAO dalam keterangan di situs resmi, dikutip Jumat (28/4/2023)

Meski, FAO menambahkan, laporan tersebut sebagai hasil analisis sementara didasarkan pada tren historis. Sehingga, pemantauan terus-menerus prakiraan cuaca sangat penting.

“Seperti regional lainnya fenomena samudera dan atmosfer dapat memodulasi dampak El Nino dan dampak selanjutnya pada sektor pertanian,” jelas FAO.

Laporan tersebut menampilkan pemetaan korelasi kondisi vegetasi di lahan pertanian dengan kondisi El Nino, tipe presipitasi tipikal dalam kondisi El Nino (telekoneksi, mengacu pada anomali iklim yang terkait satu sama lain pada jarak yang jauh-biasanya ribuan kilometer).

Serta, peta lahan pertanian dengan korelasi tinggi kering/ basah saat El Nino. Peta terakhir ini menunjukkan korelasi dengan tanaman serealia seperti padi, jagung, dan gandum.

“Mengingat rekor jumlah orang yang menghadapi kerawanan pangan akut, FAO meneliti daerah-daerah di dunia yang sangat rentan terhadap El Niño dan bagaimana tindakan antisipatif dapat diambil untuk mengurangi risikonya,” tulis FAO.

Pada peta wilayah pertanian dengan korelasi tinggi pada kekeringan akibat El Nino, tampak sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi bakal mengalami defisit air atau kekeringan.

Tampak indikasi merah (defisit air) diprediksi melanda sebagian Sumatra, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan seluruh Papua.

Kondisi ini akan berdampak pada pertanaman padi di Indonesia, di mana risiko tinggi terjadi pada fase reproduksi.

Sedangkan pada fase penanaman awal risiko kekeringan dinilai moderat.

Pada peta korelasi kondisi tanaman pertanian saat terjadi El Nino, sebagian besar wilayah Indonesia, kecuali Kalimantan Barat dan Lampung, menunjukkan indikasi oranye dan merah. Ini menunjukkan kondisi tanaman tertekan akibat kekeringan.

Secara umum, pemetaan hasil laporan FAO menunjukkan, seluruh wilayah Indonesia pada periode Juni-Januari bakal mengalami kekeringan akibat El Nino.

Disebutkan, menurut sebuah laporan baru oleh Sistem Informasi Global dan Peringatan Dini (GIEWS) FAO, Afrika Selatan, Amerika Tengah dan Karibia dan sebagian Asia jadi perhatian khusus.

Pasalnya, sejumlah negara-negara di kawasan ini tengah menghadapi kerawanan pangan akut tingkat tinggi dan penurunan pertanaman signifikan saat El Nino.

Dalam laporan tersebut, FAO menempatkan Indonesia dengan sejumlah negara masuk dalam kelompok berisiko kekeringan akibat El Nino.

Negara di ASEAN yang berisiko mengalami kekeringan akibat El Nino menurut FAO adalah:

Indonesia
Malaysia
Myanmar
Filipina
Thailand
Timor Leste
Vietnam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*